
CHAKRANEWS.MY.ID,-BANGKAMentok, Bangka Barat — Zakat ditegaskan sebagai fondasi pembangunan umat Bangka Belitung oleh Ustadz M. Yasir Mustafa, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kabag Kesra) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, saat menyampaikan pidato pada kegiatan Penyaluran Zakat dan Peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 BAZNAS Republik Indonesia di Masjid Agung Mentok, Selasa (20/01/2026).
Di hadapan jamaah dan para penerima manfaat, Ustadz Yasir menempatkan zakat bukan sekadar sebagai kewajiban ibadah individual, melainkan sebagai instrumen pembangunan sosial yang hidup, bekerja dan langsung menyentuh denyut kehidupan masyarakat. Baginya, zakat adalah pembangunan yang tidak membutuhkan alat berat, tidak bergantung pada baliho proyek dan tidak menunggu prosedur panjang.

“Zakat tidak akan menjadikan seseorang miskin. Justru zakat membuka pintu keberkahan bukan hanya pada harta, tetapi pada kesehatan, ketenangan hidup, dan keberlanjutan masyarakat,” ujar Ustadz Yasir dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
Pernyataan itu menjadi poros pidato yang ia sampaikan di masjid bersejarah tersebut. Masjid Agung Mentok pagi itu menjelma bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang lahirnya gagasan besar tentang arah pembangunan umat pembangunan yang dimulai dari iman, bergerak melalui kepedulian dan berujung pada kesejahteraan nyata.
Dalam pidatonya, Ustadz Yasir menegaskan bahwa zakat adalah sistem keadilan sosial yang telah dirancang Islam jauh sebelum dunia modern mengenal konsep negara kesejahteraan. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 261, mengibaratkan zakat sebagai sebutir benih yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai berbuah seratus biji sebuah metafora ilahiah tentang keberlipatan manfaat sosial dari harta yang dizakatkan.
Bagi Ustadz Yasir, zakat bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan hak fakir dan miskin yang dititipkan Allah dalam harta orang-orang yang mampu. Karena itu, menunaikan zakat bukan tindakan memberi, melainkan tindakan menunaikan amanah.
“Dalam setiap harta yang kita miliki, ada hak orang lain. Zakat adalah cara Allah membersihkan harta dan jiwa kita,” ucapnya.
Pesan ini memuat narasi ideologis yang kuat bahwa kepemilikan dalam Islam tidak pernah berdiri sendiri. Setiap kekayaan selalu dibatasi oleh tanggung jawab sosial. Di sinilah zakat menjadi penghubung antara yang berlebih dan yang berkekurangan, antara kekuatan ekonomi dan keadilan moral.
Ustadz Yasir juga menyampaikan pesan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung yang berhalangan hadir karena tugas kenegaraan ke Jakarta. Menurutnya, Gubernur memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja BAZNAS yang dinilai bekerja cepat, amanah dan tepat sasaran dalam menyalurkan zakat kepada masyarakat.
Ia menyoroti pola penyaluran zakat yang tidak berlarut-larut, di mana dana yang terkumpul segera disalurkan kepada para mustahik. Bagi Ustadz Yasir, inilah wajah pembangunan yang sesungguhnya pembangunan yang tidak tersendat birokrasi dan tidak kehilangan orientasi pada rakyat.
“Inilah pembangunan yang cepat menyentuh umat, bersih dari kepentingan, dan langsung dirasakan manfaatnya,” katanya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi legitimasi moral bahwa zakat dapat menjadi model pembangunan alternatif. Pembangunan yang bergerak dari masjid ke rumah-rumah warga, dari iman menuju kesejahteraan konkret.
Dimensi pidato tersebut terasa kuat ketika Ustadz Yasir berbicara langsung kepada para penerima zakat. Dengan bahasa lembut dan penuh empati, ia mengajak mereka untuk tidak memandang zakat sebagai simbol keterbatasan, melainkan sebagai tangga menuju kemandirian.
“Yang hari ini menerima zakat, insya Allah suatu saat akan menjadi muzakki. Dengan istiqamah beribadah, menjaga shalat lima waktu dan terus berusaha, tidak ada yang mustahil di hadapan Allah,” tuturnya.
Pada titik ini, zakat dimaknai bukan sebagai alat yang melanggengkan kemiskinan, tetapi sebagai instrumen pemulihan martabat manusia. Ia hadir untuk memutus mata rantai kemiskinan secara perlahan, bermartabat dan manusiawi.
Dalam nada kontemplatif, Ustadz Yasir mengingatkan hadirin tentang keterbatasan usia manusia. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW bahwa rata-rata umur umatnya berada di antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Kesadaran akan keterbatasan itulah yang, menurutnya, menjadikan zakat bernilai strategis dalam kehidupan.
“Umur panjang yang kita mohonkan kepada Allah adalah umur yang penuh ibadah dan amal. Zakat adalah amal yang dampaknya melampaui usia seseorang,” katanya.
Kalimat itu menjadi penutup reflektif yang menegaskan bahwa zakat bukan hanya urusan hari ini, tetapi warisan nilai yang jejaknya terus hidup dalam kehidupan sosial masyarakat.
Sebagai Kabag Kesra Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ustadz M. Yasir Mustafa tampil bukan sekadar sebagai pejabat struktural, melainkan sebagai figur penjaga nilai. Ia memperlihatkan bagaimana kebijakan kesejahteraan rakyat dapat dibacakan dengan bahasa iman, empati dan tanggung jawab sosial.
Di Masjid Agung Mentok pagi itu, zakat tidak hanya dibagikan. Ia dimaknai ulang sebagai nafas pembangunan umat, sebagai jembatan antara yang mampu dan yang membutuhkan, serta sebagai bukti bahwa pembangunan paling kokoh selalu bermula dari hati yang bertakwa dan kepemimpinan yang berpihak.(kms)








