
Penulis: Kemis, Budi, Belva Al Akhab, Satrio dan Tim
CHAKRANEWS.MY.ID,BANGKA Mentok, Bangka Barat — Air laut kembali menembus batas pantai dan merangsek ke rumah-rumah warga di Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat pada Jumat (9/1/2026). Luapan yang mencapai 50 cm ini tidak sekadar angka ketinggian air, ia mencerminkan gema panjang persoalan banjir pesisir di wilayah ini, yang berulang setiap musim hujan dan pasang laut, dengan dampak langsung ke kehidupan dan jiwa warga pesisir.
Air rob yang menggenangi puluhan rumah di Dusun II dan III mendorong warga bertahan meski kondisi rumah terendam.
“Air naik keras, tapi kami tetap di rumah karena ini kampung kami. Apa boleh buat, tetap berusaha menjaga barang,” ujar salah seorang warga setempat saat air mencapai selutut orang dewasa. Suasana Nelangsa ini menjadi wajah nyata dari perubahan kondisi pesisir yang semakin rapuh.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena banjir pesisir (rob) meningkat akibat peristiwa astronomi seperti fase Perigee dan Bulan Purnama yang memunculkan pasang laut lebih tinggi, yang diprediksi berpotensi menimbulkan banjir pesisir di Babel hingga 10 Januari 2026.
Studi ilmiah menunjukkan bahwa kejadian banjir rob kerap bersifat compound flooding bukan hanya dipicu oleh tinggi laut tetapi juga kondisi hujan lebat, gelombang, dan drainase yang buruk yang menghasilkan kombinasi penyebab banjir pesisir lebih parah.
Secara ilmiah, fenomena kenaikan permukaan laut yang dipercepat oleh perubahan iklim dan penurunan tanah (land subsidence) juga memperbesar intensitas banjir rob di pesisir Indonesia, termasuk wilayah Bangka Belitung.

Kamis sore, sambil menata kembali perabot yang terapung, Siti, seorang ibu rumah tangga berusia 47 tahun, berkata lirih:
“Kami hidup dengan air setiap musim hujan. Anak-anak belajar waspada sejak kecil. Dulu rumah kami kering, sekarang air jadi tetangga setiap saat.”
Warga lain, Pak Harun, nelayan dan petani yang rumahnya kini digenangi air, menambahkan:
“Ini bukan sekadar banjir. Ini ancaman hidup kami, ikan datang ke rumah, buaya dan ular ikut naik. Bahkan warga menangkap ular di dalam rumah warga kemarin.”
Sejumlah laporan dan data menunjukkan bahwa penanggulangan banjir rob di Bangka Barat selama ini masih reaktif, fokus pada evakuasi darurat dan penyelamatan barang, sementara tanggap jangka panjang seperti infrastruktur tanggul pantai, sistem drainase terpadu dan peringatan dini belum terimplementasi secara kuat.
Warga mengeluhkan minimnya saluran air yang memadai dan lemahnya pembagian informasi dini dari otoritas lokal setiap kali BMKG mengeluarkan peringatan potensi banjir pesisir. Kata Kepala BPBD Bangka Belitung dalam pernyataannya pada Desember lalu.
“Kami selalu memantau dan mengimbau warga pesisir untuk bersiap karena potensi air laut tinggi bisa memicu banjir rob jika disertai hujan lebat.”
Namun, warga mempertanyakan apakah imbauan saja cukup ketika kondisi rumah mereka terendam setiap tahun tanpa solusi struktural yang berkelanjutan.
Foto foto yang merekam muka air laut yang menyerbu rumah warga bukan hanya dokumentasi kondisi lingkungan, tetapi simbol benturan hidup manusia dan alam yang semakin keras. Setiap genangan adalah narasi kolektif tentang ketidakberdayaan komunitas kecil di tengah derasnya perubahan alam dan keterbatasan respons kebijakan.
Fenomena banjir rob di Desa Belo Laut adalah gambaran nyata bahwa tanggul bukan hanya beton tetapi komitmen kebijakan, adaptasi komunitas dan kesiapsiagaan bersama harus dibangun. Jika tidak, rumah warga bukan hanya terendam air, tetapi juga terendam oleh masalah yang kian dalam dalam perubahan iklim, kelemahan sistem penanggulangan bencana dan lemahnya investasi infrastruktur pesisir yang tahan masa depan.
Daftar Literatur:
Diguyur Hujan Deras-Air Laut Pasang, Puluhan Rumah Warga di Babar Terendam, Detik.com. liputan awal peristiwa banjir rob di Belo Laut. (detikcom)
Sungai Meluap, 62 Rumah di Desa Belo Laut Terendam Banjir, WowBabel. Data terdampak dan tanggapan BPBD. (Wow Babel)
Waspada, Babel Masuk Wilayah yang Berpotensi Kena Banjir Rob hingga 10 Januari 2026, Lintasbabel. Peringatan BMKG terkait potensi banjir pesisir. (https://lintasbabel.inews.id/)
A Comprehensive Review of Coastal Compound Flooding Literature, arXiv. Kajian ilmiah terkait fenomena compound flooding. (arXiv)
Sea Level Rise in Indonesia: The Drivers and the Combined Impacts from Land Subsidence, ASEAN Journal. Kajian ilmiah dampak kenaikan muka laut di Indonesia. (ajstd.ubd.edu.bn)
BPBD Bangka Belitung Ingatkan Warga di Kawasan Pesisir Waspada Banjir Rob, Media Indonesia. Pernyataan pihak berwenang lokal. (Media Indonesia)








