Laporan: Abok Amang

CHAKRANEWS.MY.ID,-BANGKA Desa Gudang, Bangka Selatan – Suatu sore di Desa Gudang, seorang lelaki sepuh menunjuk ke arah tanah bekas jalur tambang. “Di sini dulu orang bekerja bukan karena mau,” katanya pelan. Di Bangka, timah tak pernah datang sebagai berkah semata. Ia hadir sebagai perintah, paksaan dan pengawasan. Dari lanskap semacam inilah nama Batin Tikal bertahan bukan karena ia memenangkan perang besar, melainkan karena ia menolak tunduk.
Legenda tentang rambut gimbal Batin Tikal telah lama hidup di beranda rumah warga. Rambut itu dipercaya memiliki kesaktian, tak bisa dipotong dan menjadi sebab kematian seorang perwira Belanda. Namun hari ini, kisah itu bergerak melampaui mitos desa. Ia memasuki ruang akademik, menjadi bahan skripsi dan disertasi, sekaligus membuka kembali pertanyaan lama bagaimana rakyat Bangka melawan kolonialisme timah tanpa meriam dan barak militer?
Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, Bangka menjadi simpul penting dalam ekonomi kolonial Hindia Belanda. Timah dari pulau ini mengalir ke pasar global, sementara rakyat setempat menghadapi kerja paksa, pengawasan ketat dan pengendalian elite lokal. Kolonialisme bekerja bukan hanya melalui senjata, tetapi melalui tubuh siapa bekerja, siapa mengawasi, siapa patuh.
Batin Tikal hidup di tengah sistem itu. Ia adalah pejabat adat yang seharusnya menjadi perpanjangan tangan kekuasaan kolonial. Namun penolakannya terhadap monopoli timah menjadikannya figur yang diingat berbeda. Ia memilih berpihak pada rakyat, meski harus berhadapan dengan struktur kolonial yang mengatur hidup dan mati ekonomi Bangka.
Dalam ingatan masyarakat, keputusan itu bukan sekadar sikap politik, melainkan tindakan moral. Dari sanalah rambut gimbalnya memperoleh makna.
Rambut Batin Tikal, bagi warga Desa Gudang, bukan sekadar rambut. Ia adalah simbol tubuh yang tak mau diatur. Dalam satu kisah yang terus diceritakan, seorang perwira Belanda bernama Kapten D.W. Backing mencoba memotong rambut itu. Gunting belum sempat bekerja, petir menyambar. Sang kapten tewas berdiri.
Tak ada arsip kolonial yang mencatat peristiwa itu. Namun di situlah letak kekuatannya. Kisah ini hidup sebagai memori sosial. Sebuah narasi tentang batas kekuasaan kolonial. Bahwa ada wilayah yang tak bisa dimasuki penjajah: martabat dan keyakinan.
“Rambut Batin Tikal adalah simbol kuasa budaya. Ia bukan benda magis semata, tetapi cara masyarakat menyatakan perlawanan terhadap kolonialisme yang mengontrol sumber daya dan tubuh.” kata Dr. Rita Zahara Rebuin, antropolog budaya Bangka, Selasa (10/02/2026) dihubungi via telepon.
Dalam konteks kolonial, rambut menjadi metafora. Ia tumbuh liar, tak diatur dan menolak disiplin. Sesuatu yang berbahaya bagi rezim yang hidup dari keteraturan dan kepatuhan.
Puluhan tahun kemudian, kisah itu diteliti ulang oleh Salsabilla Mutiara Maharani, mahasiswi Universitas Sriwijaya. Dengan pendekatan etnografis, ia mewawancarai tetua adat hingga pemuda desa. Temuannya menunjukkan pergeseran makna.
Generasi tua memandang rambut Batin Tikal sebagai benda sakral. Generasi muda melihatnya sebagai simbol sejarah dan identitas budaya. Namun keduanya sepakat bahwa Batin Tikal adalah figur perlawanan rakyat Bangka.
“Perbedaannya bukan pada penghormatan, tetapi pada cara memahami,” tulis Salsabilla dalam skripsinya. Mitos tidak hilang, ia berubah bahasa.
Di tangan akademisi muda, cerita desa menjadi alat baca sejarah. Bukan untuk membuktikan petir atau gunting, melainkan untuk memahami bagaimana masyarakat memproduksi ingatan tentang ketidakadilan kolonial.
Disertasi Dr. Rita Zahara Rebuin memperluas pembacaan itu. Ia menempatkan rambut Batin Tikal sebagai simbol kuasa budaya yang bekerja melalui cerita, ritual, dan ingatan kolektif. Dalam masyarakat yang lama didefinisikan oleh arsip kolonial, ingatan lokal menjadi medan perlawanan terakhir.
Kolonialisme timah mungkin telah berakhir secara administratif. Namun bekasnya masih tampak yaitu lubang tambang, ketimpangan ekonomi dan sejarah yang lebih sering ditulis dari sudut pandang penguasa. Kisah Batin Tikal menolak semua itu.
Ia mengingatkan bahwa perlawanan tidak selalu berbentuk senjata. Kadang ia hadir dalam simbol, dalam tubuh, dalam cerita yang terus diulang agar ketidakadilan tidak dilupakan.
Di Desa Gudang, rambut Batin Tikal mungkin tak pernah benar-benar ada dalam bentuk fisik. Namun maknanya terus tumbuh. Ia menjadi pelajaran bahwa sejarah lokal tidak selalu patuh pada logika arsip, tetapi justru hidup dalam ingatan rakyat.
Bagi Bangka Belitung, kisah ini adalah pengingat pahit bahwa timah membawa kekayaan bagi imperium, tetapi penderitaan bagi mereka yang menggali. Dan di tengah mesin kolonial itu, ada orang-orang seperti Batin Tikal yang memilih berdiri, meski sendirian.
Rambut itu, dalam segala mitosnya, tetap tak pernah tunduk.








