
CHAKRANEWS.MY.ID,-BANGKA MENTOK, BANGKA BARAT — Di tengah derasnya arus digitalisasi nasional, Kabupaten Bangka Barat masih menyimpan ruang-ruang sunyi yang belum tersentuh jaringan. Di wilayah-wilayah yang dikenal sebagai blank spot, sinyal bukan sekadar persoalan teknis, melainkan penentu arah masa depan. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Bangka Barat, Indra Cahaya, menegaskan bahwa pemerintah daerah tengah berupaya mempercepat pembangunan infrastruktur komunikasi, meskipun terbentur biaya tinggi dan ketergantungan pada kebijakan pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Digital.
“Semua usulan daerah bermuara ke kementerian. Realisasinya sangat bergantung pada prioritas nasional,” ujar Indra dalam wawancara di Gedung Majapahit, Mentok, Senin (20/04/2026).
Pernyataan tersebut menegaskan posisi daerah yang berada di antara kebutuhan mendesak masyarakat dan mekanisme birokrasi nasional. Pembangunan Base Transceiver Station (BTS) dan jaringan serat optik menjadi kunci utama, namun realisasinya berjalan bertahap mengikuti skala prioritas yang ditentukan pusat.
Di Desa Simpang Yul dan kawasan Belar, keterbatasan jaringan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat setempat, sinyal bukan sesuatu yang dapat dipastikan keberadaannya. Ia hadir sesekali, lalu menghilang tanpa pola.
Dalam sebuah rumah sederhana di Belar, seorang ibu menggambarkan realitas itu dengan kalimat yang sederhana namun dalam maknanya.
“Kalau tidak ada sinyal, kami tidak tahu apa-apa,” ujarnya.
Kondisi ini berdampak langsung pada akses informasi, pendidikan dan komunikasi. Anak-anak harus mencari titik tertentu seperti bukit kecil, pinggir jalan atau sudut desa hanya untuk mengirim tugas sekolah. Aktivitas yang di wilayah lain dianggap biasa, di sini berubah menjadi perjuangan.
Di titik inilah, pembangunan jaringan tidak lagi sekadar proyek infrastruktur, tetapi menjadi upaya membuka akses terhadap kehidupan yang lebih setara.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat menjalin kerja sama dengan PT Telkom Indonesia untuk menghadirkan jaringan Wi-Fi berbasis satelit di wilayah blank spot.
Langkah ini menjadi solusi jangka pendek untuk menjembatani keterbatasan akses. Namun, kapasitas yang terbatas dan kestabilan jaringan yang fluktuatif menjadikan teknologi ini belum mampu sepenuhnya menggantikan kebutuhan akan infrastruktur permanen.
Sementara itu, pembangunan BTS terus dikoordinasikan dengan Telkomsel. Pemerintah daerah telah mengirimkan berbagai permohonan dan melakukan pemetaan wilayah prioritas, dengan harapan percepatan pembangunan dapat segera terealisasi.
Salah satu tantangan utama dalam pembangunan jaringan dengan tingginya biaya investasi, terutama untuk pemasangan kabel serat optik. Kondisi geografis dan rendahnya kepadatan penduduk di beberapa wilayah membuat pembangunan menjadi kurang menarik secara ekonomi.
Akibatnya, daerah-daerah terpencil sering kali berada di urutan terakhir dalam prioritas pembangunan.
Di sinilah muncul dilema mendasar ketika akses terhadap informasi menjadi kebutuhan dasar, apakah ia masih layak ditentukan oleh pertimbangan keuntungan semata?
Keterbatasan jaringan tidak hanya menghambat komunikasi, tetapi juga memperlambat mobilitas sosial. Pelayanan publik berbasis digital menjadi sulit diakses, informasi tidak tersampaikan secara merata dan proses pendidikan mengalami ketimpangan.
Generasi muda di wilayah blank spot menghadapi tantangan yang tidak dialami oleh mereka yang tinggal di daerah dengan akses internet memadai. Ketika dunia bergerak menuju digitalisasi, sebagian masyarakat masih berjuang untuk sekadar terhubung.
“Digitalisasi adalah kebutuhan. Tanpa jaringan, aktivitas masyarakat akan terganggu,” tegas Indra.
Pernyataan ini menegaskan bahwa akses digital bukan lagi pilihan, melainkan prasyarat bagi pembangunan.
Indra Cahaya menyatakan bahwa pemerintah daerah terus berupaya memperjuangkan pemerataan jaringan hingga ke tingkat pusat. Koordinasi dengan kepala daerah dan kementerian dilakukan untuk memastikan Bangka Barat masuk dalam prioritas pembangunan nasional.
Namun di lapangan, masyarakat masih berada dalam fase menunggu.
Tidak ada kepastian waktu, tidak ada jaminan percepatan yang ada hanyalah harapan bahwa suatu hari, sinyal akan hadir sebagai bagian dari kehidupan yang normal.
Di Bangka Barat, sinyal telah melampaui fungsi teknisnya. Ia menjadi simbol kehadiran negara, indikator keadilan pembangunan, sekaligus penanda kebangkitan menuju era digital.
Ketika jaringan mulai terbangun, ia tidak hanya membawa koneksi, tetapi juga membuka akses terhadap pendidikan, ekonomi, dan informasi. Ia menjadi jembatan yang menghubungkan desa dengan dunia yang lebih luas.
Indra Cahaya, melalui perannya di Kominfo Bangka Barat, berada di titik pertemuan antara harapan masyarakat dan realitas kebijakan. Upaya yang dilakukan hari ini mungkin belum sepenuhnya menjawab kebutuhan, namun menjadi langkah awal dalam perjalanan panjang menuju pemerataan digital.
Selama sinyal masih harus dicari ke tempat-tempat tinggi, perjuangan itu belum selesai. Namun di setiap upaya yang dilakukan, tersimpan satu keyakinan bahwa suatu saat, gelombang yang tak kasat mata itu akan menjangkau semua tanpa kecuali.(kms)










