CHAKRANEWS.MY.ID.JJAKARTA,-– Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) menggelar puncak peringatan Dies Natalis ke-72 pada Sabtu (11/4/2026) di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Setiabudi, Jakarta Selatan.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Menteri Perindustrian RI Faisal Riza sebagai keynote speaker, Ketua Umum GMNI M. Risyad Fahlefi, Sekretaris Jenderal Patra Dewa, Bendahara Umum Anselmus Ersandy S., serta Ketua Panitia Dies Natalis ke-72 GMNI Adi Suherman Tebwayanan.
Usai acara, Ketua Umum GMNI M. Risyad Fahlefi menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam peringatan kali ini berkaitan erat dengan semangat kemandirian ekonomi bangsa sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945.
“Kenapa tema itu yang diangkat, karena pasal tersebut menjelaskan tentang kemandirian ekonomi sebuah bangsa. Tentunya kita harap ke depan semua elemen, baik pemerintah maupun masyarakat, mulai sadar tentang pentingnya kemandirian ekonomi bangsa,” ujar Risyad.
Ia juga menyinggung langkah pemerintah, termasuk kebijakan Presiden Prabowo Subianto dalam membentuk lembaga pengelola aset negara. Menurutnya, inisiatif tersebut harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan pengawasan ketat.
“Kita lihat misalkan Presiden Prabowo telah menciptakan satu lembaga untuk mengelola berbagai macam aset yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga dapat dimanfaatkan dengan baik. Harapannya, pelaksanaannya bisa sesuai dengan yang diinginkan,” katanya.
Risyad menegaskan pentingnya mencegah praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam pengelolaan aset negara. Ia berharap lembaga tersebut dapat berjalan sesuai dengan amanat para pendiri bangsa.
“Jangan sampai ada korupsi, jangan sampai ada penyalahgunaan wewenang. Sehingga lembaga itu bisa menjadi seperti yang ditunjukkan dalam pesan Bung Karno, yaitu ‘mewarisi apinya, bukan abunya’,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh kader GMNI di Indonesia untuk terus menghidupkan semangat perjuangan dan ideologi yang diwariskan oleh Bung Karno, khususnya melalui ajaran Trisakti.
“Pesan saya, terus bahu-membahu. Pesan Bung Karno jelas, Trisakti itu penting. Bela masyarakat, tidak hanya terbatas dalam konteks Pasal 33 UUD saja,” ujarnya.
Risyad juga menekankan bahwa setiap daerah memiliki persoalan lokal yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kader GMNI di seluruh Indonesia diharapkan mampu merespons isu-isu tersebut secara konkret, selama tetap berlandaskan semangat marhaenisme.
“Saya yakin di seluruh kabupaten, kota, maupun provinsi memiliki isu lokal masing-masing. Selama itu atas nama marhaenisme, tentu saya mendukung kader-kader untuk terus bergerak,” pungkasnya.
(Eka)










