CHAKRANEWS.MY.ID.JAKARTA, – Presiden Prabowo Subianto mulai mencicil jarak dengan pemerintahan sebelumnya di bawah Jokowi melalui reshuffle parsial kabinet sebagai sinyal awal radical break, menurut pengamat politik Rocky Gerung.
Namun, kata Rocky, reshuffle kabinet yang diumumkan Presiden Prabowo belum bisa dikatakan sebagai radical break sepenuhnya. Sebaliknya, reshuffle ini bersifat parsial dan menjadi langkah awal merespons tuntutan publik yang menginginkan perubahan dalam kabinet.
Rocky menyampaikan bahwa reshuffle kali ini merupakan sinyal bahwa Presiden Prabowo mendengar aspirasi rakyat setelah demonstrasi yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menurut Rocky, perubahan yang terjadi masih didominasi oleh kader partai Golkar, dan sejumlah posisi strategis yang selama ini dianggap sebagai proksi Presiden Jokowi belum diganti secara menyeluruh.
“Namun, perhatian khusus layak diberikan pada penggantian Sri Mulyani yang selama ini dianggap sebagai barometer stabilitas ekonomi Indonesia. Penggantinya memang paham bidang keuangan, tetapi masih perlu dilihat apakah perubahan ini berdasarkan pertimbangan teknokrat atau pertukaran politik,” kata Rocky di channel YouTube-nya yang diunggah Senin (8/9/2025)
Rocky juga memprediksi reshuffle kali ini hanya merupakan tahap awal (mini radical break). “Masih akan ada gelombang reshuffle berikutnya yang lebih besar, mengingat perubahan kabinet secara total secara mendadak akan berisiko mengguncang stabilitas pemerintahan,” katanya.
Lebih jauh, Rocky menilai langkah Prabowo ini merupakan upaya untuk memutuskan secara bertahap hubungan dengan rezim sebelumnya di bawah Jokowi. Publik, kata Rocky, menginginkan adanya penghukuman atas rezim yang dianggap telah melemahkan demokrasi, meningkatkan korupsi, dan merusak lembaga-lembaga negara selama 10 tahun terakhir.
“Demonstrasi besar-besaran kemarin menjadi refleksi masih adanya keresahan yang belum terselesaikan terkait keberhasilan atau kegagalan demokrasi di Indonesia,” kata Rocky.
Pengamat ini juga menyoroti perlunya perubahan kultur dan sistem politik dengan menghadirkan wakil rakyat yang benar-benar memahami nilai-nilai demokrasi dan sejarah intelektual bangsa. Kepercayaan publik kepada partai politik memang menurun, dan kini lebih terpaku pada tokoh-tokoh media sosial.
“Oleh sebab itu, partai politik perlu melakukan peningkatan kualitas kader dan calon legislatifnya agar dapat menjalankan fungsi representasi secara sehat,” saran Rocky.
Rocky menekankan reshuffle yang dilakukan Presiden Prabowo sebagai upaya memberikan katarsis atas protes publik yang intensif, sekaligus membuka pintu dialog dan perubahan. Namun, masih diperlukan langkah lebih radikal ke depan untuk mengungkap dan menyingkirkan kepentingan politik lama yang dinilai masih membelenggu kabinet saat ini.
“Dengan reshuffle ini, Presiden Prabowo mulai membangun harapan baru (politics of hope) untuk masa depan politik Indonesia yang lebih demokratis, jujur, dan berkeadilan sosial,” tandasnya.
Editor : Welly.I.T










